Melawan Standar Kecantikan Sosial Yang Tinggi Bagi Masyarakat Perempuan di Indonesia
![]() |
Namanya manusia, kadang lupa kalau kita akhirnya malah menjadikan media sosial sebagai tolak ukur kebahagiaan dan pecapaian kita. Berawal dari rasa kurang aman dan kurangnya kepercayaan diri atas kesempurnaan yang kita lihat dari diri orang lain, alhasil, muncul perasaan insecure, membanding-bandingkan, dan rendahnya kepercayaan diri kita, hingga akhirnya membuat kita mudah iri terhadap mereka. Kita jadi kurang bisa melihat kecantikan diri kita sendiri, potensi kita, pencapaian kita, dan tutup mata atas segala kelebihan yang ada di diri kita, yang patut kita hargai dan sayangi lebih dulu.
Merasa insecure itu nggak apa-apa girls, itu sangat manusiawi. Namun, kita harus bisa mengatasinya supaya nggak berlarut-larut. Bukan berarti, perempuan yang terlahir berbeda dari standar kecantikan sosial; nggak putih, nggak tinggi, nggak punya tubuh yang ideal, dan nggak punya wajah yang mulus, itu nggak pantas untuk dicintai dan dihargai, girls. Kecantikan fisik orang Indonesia itu ada beragam—itu sudah pasti, karena negara Indonesia sendiri melahirkan manusia-manusia yang berasal dari beragam suku. Jadi, sebenarnya membanding-bandingkan diri kita dengan kesempurnaan fisik orang lain sampai membuat kita insecure berlarut-larut hingga menghambat diri kita berkembang karena kita nggak memiliki fisik yang sesuai dengan standar kecantikan sosial, itu sebenarnya sangat merugikan diri kita sendiri, lho.
Waktu remaja, aku juga pernah berada di posisi itu. Aku merasa insecure dengan warna kulitku, tubuhku, dan wajahku. Hal itu yang membuatku rendah diri dan merasa iri terhadap orang lain yang memiliki keberuntungan fisik lebih banyak dariku. Tapi setelah aku beranjak dewasa, aku sadar, justru dengan aku membiarkan perasaan insecure menguasaiku, aku jadi lebih sulit berkembang dan menghargai diri sendiri. Aku menutup potensi lain yang ada di dalam diriku hanya karena aku minder dan merasa tidak sesempurna orang lain. Duh, itu tuh ternyata merugikan banget, girls!
Apalagi, masih ada perempuan-perempuan yang rela membeli skincare pemutih abal-abal dan berbahaya secara online, hanya demi bisa membuat wajah mereka sesuai dengan standar kecantikan sosial, yaitu berkulit putih!
Sudahilah iming-iming cantik itu putih, ya girls. Cantik itu bukan putih dan sempurna, cantik itu dari hati dan pikiran. Kalau ada orang yang masih berpegang teguh bahwa cantik itu dinilai dari fisik yang sempurna, itu artinya, mereka belum bisa berdamai dengan keadaan hidup mereka sebagai manusia yang sebenarnya. Nggak ada yang salah jika kita ingin mengusahakan diri kita agar secantik yang kita inginkan, tapi yang salah jika kita berakhir merugikan dan menyakiti diri sendiri—bahkan orang lain, hanya karena kita memaksakan diri kita untuk bisa cantik sesuai standar sosial yang ada.
Tahu nggak girls, kalau brand kecantikan lokal Raecca, melalui akun Instagramnya, mereka memposting suatu unggahan untuk mempromosikan brandnya, dengan memakai salah satu muse-nya yang anti-mainstream dan sangat inspiratif!
![]() |
www.instagram.com/raeccaid |
Aku yakin, kita semua pernah melihat perempuan yang menurut kita, mereka itu nggak cantik, tapi bisa mudah menarik perhatian, mengangumkan dan nggak membosankan. Itu karena perempuan seperti mereka, punya inner thoughts yang positif dan percaya diri. Mereka punya kekuatan untuk menerima diri sendiri dengan memaksimalkan kelebihan yang mereka punya. Sehingga, orang-orang sudah nggak fokus lagi buat menilai fisiknya, dan mereka bisa tetap terlihat cantik karena itu.
Girls, pada kenyataannya orang-orang yang terlahir dengan fisik cantik diluaran sana, memang sudah ditakdirkan bahwa itu semua telah menjadi kelebihan mereka. Dan kita nggak perlu merasa rendah diri hanya karena kita merasa nggak secantik mereka. Penilaian cantik yang sebenarnya pun sangat relatif, girls. Kita akan cantik dimata orang yang tepat!
Terutama apabila perbandingan kita adalah orang-orang goodlooking yang menjadi influencer di media sosial atau para selebriti. Sebenarnya, girls, pekerjaan merekalah yang menuntut mereka untuk sempurna secara visual, karena pekerjaan mereka memang dinilai dari situ. Usaha mereka supaya cantik dan flawless pun tidak asal-asalan, girls. Ada pengorbanan rasa sakit dan harga selangit yang akhirnya bisa membuat visual mereka secantik dan sesempurna itu. Jadi, tidak perlu mengeneraliasasikan semua cewek itu harus secantik gini dan gitu ya, girls. Knows your beauty and worth first!
Aku tahu perasaan insecure yang kita rasakan mungkin karena kita sebagai perempuan pernah banyak mengalami hal nggak enak, merasa ragu, bingung sendiri, atau trauma. Tapi, kita harus tetap menghargai dan menyayangi diri sendiri, girls. Kita perlu percaya diri dan fokus meningkatkan value diri kita sesuai dengan potensi yang kita punya. Karena kita juga pernah sekolah. Kita punya akal budi. Kita mulia dan berharga.
Tentu, nggak mudah untuk melawan standar kecantikan sosial di negeri ini agar kita tetap percaya diri. Tapi, yang kusadari, rasa insecure yang tumbuh besar di diri seseorang itu bisa berakhir melukai diri sendri, orang-orang disekitar, dan orang-orang tersayang. Jadi percayalah, esensi kecantikan yang sebenarnya adalah berasal dari hati dan pikiran kita sendiri, bukan dari tuntutan orang lain.
Yuk, kita mulai untuk melakukan self-love! Merawat diri kita lebih dahulu dengan memakan makanan sehat, minum air putih yang cukup, menggunakan skincare, make up, dress well, dan keep smile, be happy girls!



.png)
.png)

Komentar
Posting Komentar